♥ ♥The Beauty of Tcamy♥ ♥
Just another WordPress.com weblog

CeRPeN…

Telah Ia Gapai Setinggi–tinggi Mu !!

Di sebuah kota kecil pinggiran Jakarta tinggal seorang gadis muda, Lamia namanya. Suara bising kereta api dan udara pengap karena knalpot bus telah menjadi sahabat karibnya selama limabelas tahun terakhir. Lamia, seorang pelajar SMP biasa dengan keadaan fisik yang tidak biasa. Tinggi badannya tidak sampai separuh badanku. Celana jeansku saja mampu menutupi seluruh tubuhnya. Aku mengenal Lamia kira–kira sepuluh tahun yang lalu. Saat itu usiaku masih delapanbelas tahun, aku masih kuliah di Jurusan Kedokteran Gigi di sebuah Universitas Negeri Terbaik di Indonesia di kawasan Salemba. Aku adalah seorang gadis pemalas, sebenarnya cita–citaku ingin menjadi seorang fotografer atau produser film, tapi orang tuaku terus memaksa dan mengharuskan agar di sepan namaku ditambah gelar dokter. Begitulah, aku sama sekali tidak mengerti apa yang aku pelajari di jurusan yang tengah kutekuni saat itu. Indeks Prestasiku tidak pernah lebih dari 2,60. Hobiku hanya duduk serius di depan komputer, menulis cerita dan berjalan–jalan ke banyak tempat untuk mengambil objek yang menarik untuk dijadikan pajangan dalam koleksi album fotoku. Aku selalu berharap agar suatu saat foto–fotoku bisa dipamerkan dan dihargai banyak orang.
Ajaib, keinginanku tercapai. Kira–kira tiga tahun yang lalu aku mendapat kesempatan pergi ke Amerika untuk memamerkan hasil karyaku dan mempresentasikannya di sebuah acara dalam rangka mempromosikan pariwisata Indonesia. Keberhasilanku tidak lepas dari sebuah nama. “Lamia”. Gadis remaja bertubuh mungil ini adalah malaikat untukku. Dia membawaku menggapai sebuah cita–cita yang selama ini tidak pernah ku bayangkan aku dapat menggapainya.
Kisahku berawal dari pertemuan kami di sebuah toko buku di bilangan Matraman, Jakarta Pusat. Ketika itu aku sedang mencari–cari majalah mode karena aku ingin mencontek model gaun pesta yang sedang trend dan menjahitnya untuk menghadiri resepsi pernikahan ke dua ibuku dengan seorang pengusaha tekstil yang dilaksanakan meriah di rumah baru kami yang teramat sangat megah. Rumah mewah berdesign klasik warisan nenek buyut dari ayah kandungku, di kawasan Bandung Selatan, senilai enam milyar.
Ketika sedang memilih–milih majalah, keseriusanku sedikit tersita oleh gerombolan anak “ABG” yang berkeliaran dengan tawa besar sambil melihat–lihat gitar yang tergantung di pojok kanan counter alat musik dan olahraga. Aku kesal karena banyolan mereka mengganggu konsentrasiku. Pelan–pelan aku hampiri suara pekak itu dan mengintip mereka dari sela–sela buku. Sekilas mereka terlihat biasa saja, hanya sekumpulan anak kampung yang norak sedang memilih gitar mahal yang tak akan mampu mereka beli. Sekejap setelah aku menolehkan kepala, sepertinya ada sesuatu yang aneh di antara mereka. Ku tolehkan kepalaku sekali lagi ke arah gerombolan anak–anak itu. Aku tersentak ketika mataku tertuju pada seorang gadis yang mengalami cacat tubuh. Kakinya pendek, tangannya bulat, rambutnya tebal, kulitnya coklat tua penuh bulu seperti monyet, benar–benar aneh dan tidak cantik sama sekali!! “orang kerdil? Ya..itu orang kerdil!! Orang kerdil mirip monyet”. Seumur hidup, kali itu adalah kali kedua aku melihat manusia kerdil, langsung, bukan dari televisi, bahkan yang wujudnya mirip monyet, benar-benar baru saat itu aku temui.
Aku terus memperhatikan si kerdil dari sela–sela buku. Tanpa sadar aku merogoh kamera kecil di saku jaketku lalu kuambil gambar si kerdil diam-diam. Mahluk cacat yang menarik dan aku yakin, jika aku berhasil memotretnya, fotonya akan menjadi salah satu koleksi terbaikku, bahkan aku berfikir, mungkin saja jika suatu saat aku menjadi seorang produser film, aku akan menjadikannya aktris dalam filmku yang berkisah tentang penderitaan orang-orang kerdil pemain sirkus yang hidupnya selalu dizolimi oleh manusia normal. Cerita yang ku adopsi dari sebuah novel Belanda karangan Arthur Japón, berjudul “The Grote Wereld” tersebut tiba-tiba saja muncul di otakku. Aku memotretnya dari segala arah, objek yang bagus, sayang kalau sampai tidak fokus.
Di tengah keasyikanku, tiba–tiba saja ada orang yang menarik rambutku dengan kasar dari belakang. Ketika aku berbalik, kudapati seorang anak laki–laki memakai seragam SMP sedang melotot kesal sambil menjambak rambutku yang baru saja ku cat brunette. Dengan pandangan marah, dia mendorongku keras sampai tubuhku sempoyongan. Keributan terjadi sesaat di blok majalah mode tempat aku dan anak bau itu berdiri. Sudah kuduga, gerombolan anak ABG dan gadis kerdil pun akhirnya datang menghampiri kami. Anak laki–laki berseragam SMP kurang ajar itu adalah salah satu dari gerombolan mereka. Mereka menatapku dengan pandangan sinis. Aku heran, apa salahku?. Semua terdiam sampai salah satu di antara mereka menghampiriku dan berbicara tepat di depan wajahku sambil menunjuk–nunjuk hidungku kasar. “Jangan manfaatin kekurangan orang lain buat nyari keuntungan lo sendiri!!. Lamia emang aneh, tapi lo ga berhak ngambil foto dia diem–diem! Buat apa kalou bukan buat ngambil keuntungan? Dia juga punya harga diri!? Lamia itu temen gua. Hargain dong!!, kalo lo coba macem–macem sama dia, lo bakal berurusan sama kita!! Inget tuh !!”. Hatiku remuk, tersentak, wajahku pucat pasih. Benar–benar sial, berani-beraninya dia bicara tentang harga diri di hadapan seorang calon dokter gigi, padahal aku juga hanya iseng dan tidak peduli dengan hidup mereka. Hari itu sungguh menyebalkan, aku dilabrak oleh anak–anak kampung yang usianya jauh dibawahku.
Bayangan gerombolan anak kampung yang melabrakku menghilang secepat kilat, mereka sudah pergi, memang aku pun tidak peduli. Akan tetapi, entah mengapa, aku masih terdiam, kaget dan tanganku berkeringat karena terlalu keras menggenggam kamera. Mungkin sudah lima menit aku mematung ditengah–tengah rak majalah mode. Salah satu kariawan menegurku, aku tersadar dan segera berlari berusaha mengejar gerombolan anak kurang ajar itu. Aku berlari sangat cepat sampai beberapa orang memarahiku karena aku menabrak mereka bahkan salah satu kaki pengunjung ada yang terinjak. Aku tidak merasa bersalah dan bermaksud untuk membela diri , aku tidak suka anak kecil itu menghinaku seperti orang rendahan. Langkah kakiku sudah cukup kencang, tapi aku sial lagi, tali converseku terlepas dan jejak mereka hilang begitu saja. Hhhh… sudah lelah berlari sampai luar tidak ada gunanya. Ahirnya aku duduk di tangga masuk sambil menenangkan nafas. Aku membeli sebotol air mineral, aku menelannya hinggá botol montok itu kosong tanpa isi. Satpam yang bertugas saat itu terlihat muak melihat tingkahku yang hanya bengong sambil bermain–main dengan kamera. Akhirnya ia mengusirku secara halus.
Lamia… nama gadis itu melekat di otakku, bahkan sampai tiga hari aku tidak bisa tidur karena rasa kesalku pada temannya yang sok jagoan. Perkataan anak yang menunjuk–nunjuk hidungku sangat menyakitkan.

***

Hari Rabu yang kelabu, semua orang tidak ada yang berminat keluar rumah karena hujan sangat deras, anginnya berputar-putar seratus kali lebih cepat dari putaran penari balet di dalam kotak musik. Agak berbeda denganku, aku merasa sedikit jenuh karena seharian kerjaku hanya tidur, nonton dvd sambil makan siomay Bang Muklis yang sudah tiga kali diantar ke kosanku. Aku bangun dari sofa ruang tamu kosan dengan malas. Ku matikan tv, dan kipas angin yang berputar kencang di bawah plafon. Ku bereskan sebentar ruang tamunya, setelah itu tentu saja aku keluar untuk memuntahkan kejenuhanku. Jalanan begitu sepi, aku pergi sendiri dengan mengenakan jas hujan dan tas selempang biru dongker yang di dalamnya berisi siomay yang sengaja ku bungkus supaya aku tidak kelaparan di jalan, sebuah kamera digital dan sebuah file yang isinya tinggal enam lembar. Hari itu suntuk luar biasa, dingin dan jalanan agak sedikit banjir. Benar–benar menyebalkan.
Setelah berjalan lama akhirnya aku sampai juga di pengkolan RSCM. Walaupun deras, anak–anak kecil masih saja berkeliaran untuk menjajakan payungnya pada pejalan kaki yang kehujanan. “Mba, payung mba!!”, lebih dari limapuluh kali aku mendengar bocah-bocah memanggilku mba sambil menawarkan jasa perlindungan dari air hujan. Diantara suara-suara kecil itu, ada suara lantang yang mengusik lamunanku, kudengar suara itu sayup-sayup sampai dari arah dari belakang. Mataku terbelalak ketika aku membalikan badanku. “Lamia ???!!!!”, sentakku kaget sambil menggelengkan kepala. Aku terdiam sejenak. Aku tak percaya setelah tiga hari aku memikirkannya, kali itu Tuhan mempertemukan kami kembali. Jodoh! Keberuntungan! Rencana Tuhan! Mungkin aku memang ditakdirkan untuk menjadi seorang produser film! Bukan dokter gigi!. Aku sangat gembira, tapi, aku heran, saat itu Lamia sendiri tanpa gerombolan bocah sok pahlawannya. Gadis itu terlihat heran melihat ketololan di wajahku. Ia mendekat dan bertanya apakah aku sakit?. Aku semakin bingung, ternyata dia lupa padaku, padahal aku kan cantik, aku tidak menyangka ada orang sejelek dia lupa padaku, tapi syukurlah, jika dia ingat, mungkin dia akan langsung mencakarku lalu menyuruh anak–anak lain untuk mengeroyokku dengan brutal.
Hujan mulai reda tapi angin masih bertiup kencang. Aku baru merasa kalau Jakarta begitu dingin. Sore itu jam tanganku menunjukan pukul lima tepat. Ternyata sudah limabelas menit aku berteduh di bawah tenda soto betawi. Ketika ku lihat sekeliling, anak-anak penjaja sewa payung sudah mulai sepi. Lamia juga menghilang, aku sengaja menghindar darinya sebagai sikap waspada pada kejahatan anak jalanan. Hhhh… tapi tetap saja aku menyesal, andai saja aku berhasil mendapatkan gambar si manusia monyet itu di tengah hujan, pasti aku akan mendapat pujian lagi dari teman-temanku di kelas, begitu bodohnya aku sampai kehilangan jejak gadis sekecil dia untuk keduakalinya. Wajahku yang nampak linglung terus melongok ke luar tenda berharap aku menemukan Lamia. Tiba–tiba bapak penjual ketoprak yang berdagang tepat di samping tenda soto yang kududuki berteriak ke arah jalanan. “Boncel…Boncel…Sini luh !! Makan dulu nih .. tar jatah lu keburu abis !!”. Bapak buncit yang hanya memakai singlet di tengah hujan itu memanggil orang yang sama seperti yang sedang kucari. Mungkin kami memang berjodoh untuk selalu bertemu dan cita-citaku untuk membuat film akan segera terkabul.
Lamia dengan celana batiknya datang basah kuyup untuk mengambil jatah ketoprak yang khusus diberikan Pak Cepi. Sepiring ketoprak dengan banyak lontong dan sedikit bumbu kacang disantapnya dengan lahap. Aku terus memperhatikan wajah lugu Lamia yang selalu tersenyum sambil terus menyuap lontong sendok demi sendok. Nampaknya dia mulai menyadari kalau aku memperhatikannya sedari tadi. Dia menawariku makanannya yang tinggal setengah. Aku merasa malu dan merasa betapa bodohnya wajahku karena aku hanya bisa diam, melamun dan takjub pada tubuhnya yang begitu kecil dan bulunya yang hampir tidak ada bedanya degan monyet. Aku memberanikan diri untuk memulai pembicaraan. Kesempatan menemukan artis seperti itu tidak akan datang tiga kali, karena Tuhan telah mempertemukan kami dua kali. Aku tanya dimana ia tinggal dan apa pekerjaannya. Mulut lebarnya yang penuh dengan tauge dan kerupuk menganga lebar berusaha menjawab pertanyaanku. Aku baru bisa mendengar suaranya dengan jelas setelah Lamia menelan kunyahan yang mencair seperti muntah yang ada di mulutnya. Sekali lagi aku tersentak ketika mendengar jawabannya. Dia seorang anak sekolahan! Whow… betapa kerennya dia!!. Lahir 14 Agustus 1982, ibunya seorang wanita bertubuh mungil yang rajin bekerja dan ayahnya seorang pemulung yang sabar. Keduanya telah meninggal dunia, ibunya meninggal karena sakit dan ayahnya meninggal karena terlibat pertengkaran dengan petugas BPN pada saat mereka melakukan penggusuran di lingkungan kumuh tempat mereka tinggal. Sejak ayahnya meninggal Lamia tinggal di rumah Adit, salah seorang sahabatnya yang masih mempunyai orang tua lengkap. Aku melihat matanya begitu berbinar–binar ketika ia menceritakan Adit. Sosok anak laki-laki yang baik, lucu dan selalu membantu Lamia disaat ia membutuhkan bantuan. Nampaknya Adit adalah teman yang istimewa untuk Lamia. Ternyata benar, anak laki–laki yang sangat menyebalkan yang telah bersikap kurang ajar padaku karena telah berani menunjuk hidungku tepat di depan wajahku tiga hari yang lalu itu, dialah anak laki–laki hebat yang bernama Adit. Aku menyadarinya ketika Lamia berbicara panjang lebar ketika mendeskripsikan betapa tampannya Adit. Usia Adit baru empat belas tahun, tetapi ia sudah berhasil menjadi pengusaha yang sukses di lingkungannya. Dia seorang pengumpul kardus bekas dan penghasilannya dalam satu hari bisa mencapai duapuluh ribu rupiah. Tentu saja dia anak terkaya di antara teman–teman sebaya di daerahnya.
Selain bersekolah, Lamia, Adit dan teman-temannya selalu menyempatkan waktu untuk mengamen di dalam kereta. Betapa menakjubkan, suara gadis kerdil itu mampu menyentuh hatiku ketika ia menyanyikan lagu yang berjudul “Heaven” yang berhasil dipopulerkan oleh Brian Adam.Hah, tau juga dia lagu seperti itu?, Lamia memang hebat, dia seorang gadis kerdil tapi jiwanya sama sekali tidak kerdil. Dia rajin bekerja, giat belajar dan ternyata, kulihat dari pandangannya yang polos, dia juga punya cinta. Cinta yang sedikit berbeda yang ia persembahkan khusus untuk seorang laki–laki muda bernama Adit. Semua cerita Lamia kurangkum dari obrolan kami di kursi ketoprak selama kurang lebih satu setengah jam.
Sudah lewat magrib, aku merasa lelah, badanku pegal dan mataku ngantuk. Aku berdiri untuk beranjak pulang dan tidur di kosan, tapi tidak dengan Lamia, walaupun ia lebih lelah dariku, walaupun bulu lebatnya basah, ia tetap mengejar waktu magribnya. Sebelum ia pergi tentu saja aku tidak lupa memintanya untuk berfoto. Enam kali ku jepret kameraku untuk mengambil gambar Lamia dan bapak penjual ketoprak. Lucu sekali, kepala Lamia hanya sampai di sikut pak Cepi yang jauh lebih pendek dariku. Siomay dingin yang ada dalam tasku akhirnya kuberikan padanya. Dia menerima pemberianku dengan senang hati lalu dia pergi menuju mushola di ujung gang dekat RSCM.

***
Hari Kamis, delapan hari setelah pertemuanku dengan Lamia, kusisihkan waktu untuk mampir ke tenda soto Pak Muklis bersama teman–teman setelah jam kuliah. Ternyata pak Muklis yang hampir seusia kakekku masih mengenaliku, begitu juga dengan Pak Cepi yang masih saja memakai singlet ketika berdagang. Ketika kutunjukkan hasil fotonya bersama Lamia, ia terlihat sangat senang. Dia minta dua sebagai kenang–kenangan. Yang satu untuknya dan yang satu untuk Lamia. Rasa penasaranku muncul, aku bertanya banyak hal tentang Lamia pada pak Cepi. Begitu banyak ia bercerita sampai aku benar–benar takjub dan semakin penasaran. Keingintahuanku tentang bagaimana gadis itu menjalani hidupnya menuntunku untuk lebih dekat dengan Lamia.

***

Hari Sabtu adalah hari yang menyenangkan, selain libur, suasana hatiku juga memang sedang senang, karena Sakti, cowok paling keren se kampus, setidaknya menurutku begitu, ahirnya mengajakku makan tanpa siapapun. Haha.. hatiku serasa terbang dan dan susah turun lagi. Menurut teman–temanku Sakti biasa saja, hanya sedikit sedikit pintar, tapi menurutku dia sempurna, karena selain jago main gitar, dia juga menyukai fotografi. Benar–benar cocok denganku. Kami makan di sebuah restoran mahal dengan menu yang termurah, karena Sakti agak sedkit pelit kalau sudah bicara soal harga. Menu termurah di restaurant mahal itu adalah soto kikil. Aku memang penggemar soto, dan Sakti sangat mengerti itu, tapi SUMPAH, aku tidak suka kikil, tapi cinta butuh pengorbanan, demi Sakti, aku pesan menú menjijikan itu lalu menelannya dan sesaat setelah itu aku muntah-muntah di toilet.
Hari itu gaya Sakti cukup keren tapi agak sedikit aneh karena dia memakai sepatu kulit bapak–bapak. Penilaianku turun sekitar lima point, tapi aku tidak terlalu peduli, aku hanya mencoba menarik perhatian Sakti dengan bersikap Manis dan selalu tersenyum semaksimal mungkin. Setelah makan siang dan selesai muntah aku turun terburu–buru untuk menunggu bajaj kearah Stasiun Cikini. Sakti merasa heran dengan sikapku yang aneh. Dia menawariku naik mobilnya tapi aku tidak mau. Tentu saja tidak, aku kan ingin ke daerah kumuh, lagipula perjalananku akan lebih cepat jika ku tempuh dengan kereta. Jika aku diantar naik mobilnya, sama saja buang–buang tenaga.
Daerah aneh dengan alamat tidak jelas yang kudapat dari Pak Cepi tidak berhasil aku temukan. Aku berjalan menyusuri pasar becek di belakang stasiun. Suara gombal pedagang pasar yang memanggilku cantik, bidadari, montok, geboy dan asoi membuatku alfil namun beruntung, setelah setengah jam menyusuri pasar, aku melihat gerombolan itu. Gerombolan anak yang pernah melabrakku di toko buku. Dengan wajah tanpa dendam dan mengajak damai aku menghampiri mereka. Tapi mereka malah menghindariku, dan menatapku dengan sinis. Kata–kata kasar yang seharusnya di sensor mereka lontarkan secara bergantian padaku. Benar–benar mencerminkan anak kampung yang tidak berpendidikan. Aku hampir saja ingin menonjok wajah mereka, tapi aku mencoba bersabar. Aku menunjukkan foto Lamia bersama Pak Cepi pada mereka, aku menjelaskan panjang lebar bahwa aku hanya ingin berteman dengan Lamia, karena aku ingin mengorbitkannya menjadi artis dalam filmku. Mereka sama sekali tidak percaya dan balik membentakku, kesabaranku hampir habis, namun mereka beruntung karena tiba–tiba Lamia datang dan melarang mereka untuk bertindak kasar padaku. Lamia bilang, aku teman barunya. Gerombolan kampung itu sempat tak percaya. Tetapi itulah Lamia, dengan suara lantang yang keluar dari bibir lebarnya dia berhasil menenangkan teman–temannya. Aku terdiam saat melihat gerombolan anak kampung itu menuruti semua kata–kata Lamia. Gadis itu menenggakan lehernya ke atas untuk menjelaskan pada teman–temannya tentang keberadaanku. Dan baguslah, mereka semua mengerti dan tidak menganggapku alien lagi.
Aku sendiri bingung dengan kedatanganku kesana, untuk apa aku kesana?, tetapi semua sudah terlanjur, aku sudah tanggung berada di tengah–tengah masyarakat yang menurutku agak menyeramkan. Aku dibawa kesebuah rumah sederhana di bawah jembatan dekat rel kereta api di kawasan Depok. Kehidupan mereka semberaut, kotor dan berantakan. Tapi ini adalah objek yang bagus untuk pemotretanku. Semuanya begitu natural, nyata, dan ini adalah sebuah pemotretan realita. Lamia berjalan dari dapur membawa sebuah nampan berisi segelas air putih untuk menyuguhiku yang sedang duduk dengan tidak nyaman di lantai yang penuh tanah. Lamia sempat tersenyum saat ia melihatku agak jijik untuk meminum air yang ia suguhkan. “Airnya bersih ka, gelasnya juga udah di cuci pake sabun!!”, bisiknya dengan penuh senyum walaupun wajahnya terlihat letih. Aku merasa kaget bercampur tidak enak mendengar perkataannya. Ternyata air itu tidak berbeda dengan air yang selama ini ku minum, bening, tanpa rasa, tanpa bau, betapa bodohnya aku ketika aku berfikir untuk jijik.
Lamia, seorang gadis dengan tubuh yang tidak biasa yang harus menjalani hidup luar biasa. Aku hampir menangis ketika Adit, anak laki-laki yang sempat ku benci karena telah bersikap kasar padaku datang dan langsung memberikan sebuah selebaran pada Lamia. Selebaran kontes menyanyi? Setelah kulihat, selebaran itu adalah selebaran yang juga dimiliki oleh salah satu teman sekelasku. Apakah mungkin gadis seperti Lamia bisa masuk dalam kontes seperti itu?, suaranya memang merdu, kuakui kualitas suara teman sekelasku yang sudah les vokal lima tahun bisa dibilang sama saja, tapi apakah hanya itu penilaiannya? Teman sekelasku jauh lebih cantik jika dibandingkan dengan Lamia. Teriakan Adit membangunkanku “Mia elo pasti bisa, gue sama anak–anak bakal dukung lo!!” Senyuman Adit yang manis terlihat sangat mempengaruhi semangat Lamia. Lamia tidak ingin menunjukan rasa bahagianya, dia hanya bisa tersenyum sambil menghela nafas. “Iye deh, Dit, gampang, ntar gue cobain!?”
Lamia kembali menghampiriku dan lagi–lagi ia menghampiriku dengan sebuah senyuman. Aku Bintang, sambil mengulurkan tangan kanan, aku memperkenalkan diriku padanya. Sejak saat itu, aku dan Lamia sering bertemu dan bermain bersama. Aku sering mengajaknya keliling Jakarta untuk menemaniku mengambil objek pemotretan yang biasanya ku kerjakan di daerah Kota, Manggarai dan sekitar Pasar Anyar. Aku menyukai semangatnya, dan dia menyukaiku karena menurutnya aku adalah sosok gadis sempurna yang selalu ia dambakan. Ia ingin punya kehidupan seperti kehidupanku. Ia ingin seperti aku, ia menganggapku punya segalanya.
Lamia yang ku kenal adalah seorang gadis yang kuat, pintar dan luar biasa, dia telah menjadi sahabatku sejak saat itu. Dia sangat membeci orang yang tidak bersyukur. Teman-teman disekolahnya selalu protes dengan wajah mereka yang jerawatan, tubuh mereka yang gendut, kulit mereka yang hitam bahkan nasib mereka yang sampai usia empatbelas belum punya pacar. Setelah ku fikir–fikir, semua yang Lamia benci terdapat juga dalam diriku. Dia bilang padaku, orang yang jerawatan bisa sembuh dengan pengobatan dokter, orang yang kegemukan bisa kurus dengan diet, orang yang berkulit hitam bisa putih dengan suntikan, dan orang yang belum punya pacar asalkan dia berusaha pasti suatu saat dia bisa mendapatkannya. Tetapi tidak dengan Lamia, tubuhnya tidak bisa dinaikan dengan cara apapun, bulu-bulunya terlalu banyak untuk disebut sebagai manusia. Sejak kecil ia ingin merasakan menulis di papantulis dengan menggunakan kapur, dia ingin sesekali baris di belakang saat upacara, dia ingin menjadi pembawa bendera, dia ingin membeli baju di tempat wanita dewasa, bukan di tempat balita, ia ingin bermain basket, dan masih banyak lagi keinginanya yang mungkin selamanya takan pernah bisa ia dapatkan tanpa bantuan orang lain. Dia tidak pernah berharap ada orang yang mencintainya untuk selama–lamanya. Tapi dia sudah cukup senang jika teman–temannya mau menyayanginya, tidak meninggalkanya dan selalu mendukungnya. Walaupun Lamia tau bahwa banyak hal yang tidak mungkin dapat ia rasakan seperti orang lain, tapi Lamia yakin ia dapat menggapai semua yang Tuhan beri untuk umatNya setinggi–tingginya asal mau berusaha.
“Aku pengen banget ngeliat ka’bah, aku pengen tau segede apa ka’bah itu di adepan aku. Aku sih udah biasa diperhatiin orang karena kekurangan aku, di kereta mereka anggep aku lucu kaya monyet kerdil, tapi aku udah buktiin ke orang–orang kalo aku bisa liatin kelebihan aku pas aku nyanyi. Mereka tepuk tangan, mereka salut sama aku dan aku jadi bangga karena semua orang suka sama aku. Aku tau ka, aku ga perlu kontes-kontesan, percuma, pasti di tolak, aku juga ga perlu balesan yang sama dari cowok yang aku suka, aku cuman perlu semangat aja, semangat dari temen–temen, karena mereka tu kebahagiaan aku yang ada dari dulu sampe ntar pas aku mati”. Baru kali itu aku melihat setetes air mata keluar dari mata jernih Lamia. Aku tidak tahan untuk diam, aku memeluknya dengan erat. Aku sangat menyayanginya dan sejak saat itu aku berjanji pada diriku sendiri untuk terus membantunya menggapai cita–citanya setinggi–tingginya.
Bersahabat dengan Lamia membuatku berfikir lebih optimis untuk menjalani kehidupan. Kisahnya kutulis dengan rapi di komputerku. Foto–fotonya yang kuambil kujadikan arsip penting dalam hidupku. Aku adalah Bintang, seorang wanita muda berbakat lulusan kedokteran gigi Universitas Indonesia yang sekarang bergelar drg. Sejak berada di Amerika aku memfokuskan diriku untuk menjadi seorang penulis. Kisah hidup Lamia kerdil berbulu lebat dengan semangat tinggi kuaangkat sebagai karya pertamaku. Dengan semangatnya dan dengan terjualnya novelku, akhirnya aku bisa membantu Lamia untuk melihat betapa tinggi dan besarnya ka’bah yang luar biasa saat usianya delapanbelas tahun. Kurang lebih tujuh tahun yang lalu, aku, mamaku, ayah tiriku, adik bungsuku dan Lamia, kami bersama-sama pergi menjenguk rumah Allah.

***

Sekarang tanah kumuh di pinggiran Depok telah dirombak menjadi lebih tertib, syukurlah dengan karyaku dan semangat Lamia, sebagian dari teman–teman “gerombolan” yang lain bisa kudidik dan mereka akan terus kulatih agar bisa membantuku meneruskan cita–citaku. Sekarang aku telah kembali ke Indonesia. Aku seorang wanita muda yang cukup mapan, usiaku menginjak duapuluh delapan tahun pada Bulan Desember tahun ini, kantor praktekku terletak di kawasan Kebayoran Baru. Aku mempunyai sebuah restoran kecil yang letaknya tepat dua blok dari kantorku, juru masakku yang telah kusekolahkan sangat pintar memasak berbagai jenis makanan, namanya Adit, anak laki–laki kecil yang sekarang tumbuh menjadi seorang pria manis yang banyak digandrungi oleh gadis–gadis muda pengunjung restaurant ketika melihat aksinya saat memasak. Dia sangat rajin, dan aku sangat menyayanginya seperti adikku sendiri. Restaurantkuku mempunyai menu spesial, yaitu soto betawi dan siomay ikan, dua jenis makanan kesukaanku sejak remaja. Pengunjung di restautantku sudah terlihat lumayan banyak, padahal usahaku ini baru berjalan kurang lebih dua bulan. Hebatnya lagi, sekitar satu bulan terakhir ini restoranku sudah punya satu orang pelanggan tetap yang agak sedikit gila. Dia sangat menyukai menu makanan kami dan mungkin juga sangat menyukaiku. Hahaha … pertama kali dia memesan, dia menanyakan menu apa yang termurah? Dia tidak pernah berubah untuk menanyakan makanan apa yang termurah disetiap restaurant, sejak saat itu dia selalu datang untuk makan di restoranku. Bahkan akhir-akhir ini dia selalu datang untuk menemuiku dengan memakai sepatu kulit yang sudah mulai pantas ia pakai dan berani mengajaku makan siang bersamanaya. Pelanggan restoranku yang satu ini memang aneh, tapi aku sangat menyukainya, semakin dewasa terlihat semakin keren, sudah lima tahun sejak kematian Lamia aku tidak bertemu dengannya, tapi untunglah aku masih ada jodoh untuk bertemu dengannya, dan kali ini aku tidak akan menolak lagi jika diberi tumpangan dalam mobilnya, namanya Drg.Sakti. Aku begitu bahagia, dan nampaknya aku akan mengakhiri masa lajangku lima bulan lagi. Semua hal yang kurasakan dalam hidup ini selalu kujadikan pelajaran berarti dan kusimpan dalam sebuah tulisan sebagai harta berharga sampai usiaku menjelang senja. Tentu saja, jika satu hari aku punya uang banyak, aku akan merealisasikan filmku yang sudah aku rencanakan sejas bertahun-tahun yang lalu.

2 Tanggapan to “CeRPeN…”


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: